My School

10:03 AM

Day 26.

@nkly1004

Dari kecil sudah dikenalkan untuk gagal. Gagal masuk sekolah pilihan pertama karena berbagai alasan. Pertama karena nilai. Lalu berusaha agar mencapai nilai maksimal. Tercapai! Akan tetapi tetap saja tidak bisa masuk pilihan pertama karena berasal dari luar kota (padahal masih satu provinsi). 


Ada-ada saja aturan yang menyulitkan untuk masuk sekolah impian. Tidak apa-apa, pengalaman itu jadi sesuatu yang menguatkan mental. 


Memang aku mengenyam pendidikan bukan di sekolah favorit, eh tapi sekolahku semasa putih abu-abu termasuk favorit di daerah itu. Nggak sengaja masuk, tapi terima kasih sudah diterima dengan baik di sekolah. Walaupun sempat dapat sorakan dari orangtua murid yang mantau nilai saat sesi pendaftaran.


Semasa SMP pun bukan sekolah favorit, tapi termasuk sekolah swasta yang jadi rujukan. Ternyata sekolah swasta tidaklah buruk. Justru aku menemukan banyak hal baru karena memang banyak sarana dan fasilitasnya. 


Kalau di sekolah negeri yang diunggulkan akademiknya, sekolah di swasta kemampuan apa aja bisa diasah. Dulu semasa SMP, ada pelajaran namanya PTD yang merupakan singkatan dari Pendidikan Teknologi Dasar. Isinya lebih banyak praktik. Ada laboratoriumnya sendiri lagi. 


Belajar PTD juga menyenangkan karena praktik. Menyablon, jahit, ngukir kayu. Padahal mata pelajaran seni rupa dan lain-lain juga ada tersendiri lho. 


Bicara soal mata pelajaran, setelah diingat-ingat semasa SMP jumlahnya sangat banyak. Sekolah di swasta dengan basis agama tentunya membuat mata pelajaran agama terbagi dalam beberapa bagian. Ada bahasa Arab, Tarikh, Aqidah, Ibadah, Alquran dan Hadist, dan Kemuhammadiyahan.


Mata pelajaran banyak sama halnya dengan waktu ujian yang lebih panjang. Kok bisa ya dulu belajar itu semua? Untungnya dulu senang-senang aja karena bisa. Dari sekolah negeri yang agama cuma satu mata pelajaran, beralih ke banyak sungguh jadi informasi baru. 


Belajar berjilbab juga dari SMP. Kalau awalnya nggak masuk sekolah swasta, mungkin sekarang aku nggak berhijab. Dulu mana kepikiran bakal berhijab, punya jilbab aja hitungan jari. Takdir~


Cheers,

You Might Also Like

0 comments