Merangkul Kecemasan dengan Mentoring Bersama Satu Persen

1:11 AM


Banyak orang sudah mulai melontarkan harapan terkait 2022. Lalu merekap beragam momen sepanjang 2021 dalam sebuah postingan, baik itu video ataupun foto. Izinkanlah kali ini aku menuliskan perjalanan 2021-ku lewat postingan di blog. 

Sadar betul, kejadian yang dialami sejak Januari 2021 hingga tulisan ini diketik adalah momen yang sangat di luar ekspektasi. Tidak ada dalam bayangan ataupun kepikiran bakal mengalami depresi dan bukan karena diagnosa mandiri, melainkan hasil pemeriksaan secara profesional oleh dokter jiwa. 


Ternyata beranjak dewasa butuh mental yang kuat dalam menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian. Bermula dari gejala-gejala fisik yang mulai mengganggu produktivitas dalam bekerja ataupun menjalani hidup sehari-hari. Sensasi tidak menyenangkan itu berlangsung lebih dari 6 bulan atau setengah tahun. Selalu ada tangis di pagi hari dan malam hari—yang entah apa alasannya aku masih tidak tahu. 


Ternyata setelah pemeriksaan kejiwaan, aku membutuhkan penanganan tindak lanjut. Aku mendapat beberapa resep obat. Terapi melalui obat cukup membantu mengatasi depresi melalui medis. Namun akar permasalahan dari gangguan jiwa depresi dan cemas tidak tergali dengan tuntas. Pada  akhirnya aku mulai mencari bantuan untuk memulihkan diri dari kecemasan dan depresi tersebut. 


Gejala-Gejala yang Ternyata Mengarah Depresi


Depresi adalah salah satu gangguan jiwa yang membutuhkan intervensi lebih lanjut, apalagi berkaitan dengan gangguan perasaan (mood disorder). Orang depresi akan mengalami kondisi di mana dirinya sedih berlarut. 


Orang yang mengalami gangguan perasaan, mereka akan mendapati kondisi emosional yang subjektif dan dalam waktu panjang. Gangguan perasaan ini kerap kali memunculkan hilang kontrol. Merasa selalu sedih, tidak memiliki harapan hidup, merasa sendirian, hal-hal yang sebelumnya menyenangkan dan disukai jadi terasa hampa. Keinginan untuk mengakhiri hidup tak luput dari pikiran. 


Pertanyaan-pertanyaan yang tanpa adanya jawaban terus berputar di kepala. Aku tidak bisa mengendalikannya. Kepala sering pusing, dada kerap nyeri, mual dan muntah jadi teman sehari-hari. Badan terasa sangat letih dan lelah. Hingga tak mampu menjalani aktivitas sehari-hari. 


Baca juga: Stres berat penyebab dan cara menghilangkannya 


Sadar diri bahwa aku tak ingin merasakan ketidaknyamanan dalam tubuh. Aku mulai mencari tahu bagaimana aku mengatasi masalahku. Aku mulai mencari informasi dari YouTube, Podcast, sampai baca-baca literatur soal kesehatan mental dan apa itu depresi? 


Salah satu sumber informasi yang cukup ringan, namun sangat membantu mengenali kondisi mentalku adalah YouTube Satu Persen Ada banyak video singkat yang padat menjelaskan suatu kondisi, salah satunya tentang depresi. 






Kebanyakan orang menilai depresi itu untuk 'gegayaan'. Sejujurnya, yang bilang begitu—aku berdoa semoga kalian tidak merasakannya. Depresi itu nyata dan sangat tidak mengenakkan. Kalau boleh milih, aku ingin sehat jiwa dan raga. Nggak lagi merasakan ketidaknyaman hidup, cemas, dan sesak. 


Cara mengatasi depresi dan hidup tenang

Perasaan nyaman dan tenang menjadi barang langka yang sulit diciptakan atau ditemukan. Aku berulang kali mempertanyakan hal-hal yang tak kunjung menemukan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan yang justru bikin makin overthinking. Hingga aku akhirnya dirujuk ke psikiater atau dokter jiwa. 


Sejak Juni hingga Desember, aku masih rutin kontrol ke dokter jiwa. Aku mendapat resep obat yang cukup mengubah hidupku. Aku menjadi lebih rileks dan bisa mengistirahatkan diri. Sejenak melepaskan pikiran-pikiran di kepala.


Ternyata aku mendapat diagnosa depresi sedang dan kecemasan. Kata-kata diagnosa tersebut membuktikan bahwa aku memang tidak baik-baik saja.



 Pada akhirnya, bulan Juni 2021, aku mencoba mencari bantuan lewat layanan Mentoring Super Plus 75 menit dari Satu PersenMentoring dilakukan selama 75 menit melalui telepon. Sebelum melakukan mentoring, aku mengisi test untuk mengenali karakteristik diriku. Hasil psikotest dari Satu Persen kemudian muncul. Ada beberapa topik di dalamnya: mulai dari hasil assesmen sebelum mentoring, kondisi mental, karakteristik pribadi, dan semuanya cukup mendetail. 


Selama mentoring, aku dibantu untuk menemukan jalan terbaik dan keputusan yang sekiranya pilihan paling tepat. Ada banyak masukan dari konselor Satu Persen untuk mengubah gaya hidup dan pikiran terkait sebuah kondisi. Tentu perjalanan menuju waras dan tenang tidaklah mudah. Beberapa masukan yang kuperoleh di antaranya belajar meditasi, menulis atau menulis jurnal, hingga berolahraga. 


Saat puncak depresi, tentu saja untuk melakukan semua itu bukan perkara mudah. Nyatanya sampai saat ini masih sering kambuh cemasnya. Aku dibantu mengurai kecemasan hingga menemukan ketenangan jiwa dan menjadi lebih mindfulness



Upaya menjadi lebih mindfulness dan produktif dalam bekerja dan menjalani hidup




"Lagi kerja bukannya produktif, malah mikirin kapan pulang ya?" Narasi dari narator di video berjudul 'Tips Agar Menjadi Selalu Tenang dan Fokus (Apa Itu Mindfulness?)' sangat menjadi 'tamparan' keras buat aku yang mengalami kecemasan. Aku kerap merasa cemas dengan hal-hal yang belum tentu terjadi. Ujungnya dalam hal pekerjaan, aku menjadi tidak produktif.





Tujuan jangka pendek dan panjang saat ini adalah menjalani hidup dengan tenang dan penuh kesadaran. Menjadi orang yang sadar dan sanggup menerima beragam sensasi kurang menyenangkan menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi diriku. Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan untuk hidup berkesadaran antara lain: meditasi.


Ternyata belum produktif yang aku rasakan, setelah aku cari tahu memiliki beberapa penyebab. Tentu proses tersebut diketahui lewat momen pengenalan diri yang tidak mudah. Setiap mentoring atau konseling dengan profesional, selalu ada tangis dan pulang-pulang lapar karena energi terkuras habis. 


Baca juga: Memahami alasan di balik rasa malas


Aku pun mencari tahu soal rasa malas dan ketidakproduktivitasku. Lalu muncullah artikel di blog Satu Persen. Dari artikel tersebut diungkapkan bahwa manusia memiliki delapan suara kemalasan yang bisa memengaruhi aktivitas. Rasa malas itu muncul karena berbagai penyebab dan tiap penyebab memiliki solusi. Kemalasan ini bikin susah produktif. 


Mengulik kehidupan yang minim produktivitas selama 2021 ini ternyata dipengaruhi secara besar oleh kesehatan fisik dan mental. Aku merasakan 'kehilangan diriku', aku yang dulunya suka banget bekerja, sekarang jadi lemas setiap ada keinginan untuk berkerja. Urusan pekerjaan dan kecemasan yang kualami ternyata cukup mengganggu. 


Seusai menjalani mentoring, aku mulai menyadari bahwa selama aku hidup di dunia. Ada banyak hal yang tidak kuketahui tentang diri sendiri. Tentang karakteristik, kepribadian, kelebihan, dan kekurangan diriku. Betapa aku merasa bersyukur bisa mengenal Satu Persen dan membantuku mengenali diri lebih jauh. Aku baru menyadari bahwa aku adalah orang dengan tipe yang terorganisir, peduli, fokus pada detail, dan pekerja keras. Selain itu aku punya kekuatan di bidang emosional. Aku ternyata tipe manusia yang mudah cemas dan  kalut.  Hal itu diperoleh dari hasil psikotest atau tes asesmen sebelum mentoring.


Dengan menyadari bahwa aku tipe yang rentan depresi dan cemas, tentunya aku butuh tameng dan perisai untuk melindungi diri. Sampai saat ini aku belum menemukan cara terbaik untuk merangkul kecemasan. Apalagi prosesnya sangat naik dan turun. Namun aku menemukan banyak tips bagaimana cara mengatasi kecemasan. 


Cara mengatasi kecemasan





Adapun cara mengatasi kecemasan antara lain:


1. Menyadari kecemasan, bukan mengabaikannya


Cemas atau overthinking itu normal, namun bisa menjadi masalah serius bila dibiarkan. Poin pertama yang sebaiknya dilakukan adalah lagi-lagi dengan kesadaran penuh bahwa kecemasan sedang terjadi. 


Untuk mengelola kecemasan, mulailah dari menyadari bahwa aku atau kamu sedang cemas. Setelah mengakui, mulai memahami soal kecemasannya. Sejak menyadari dan mengakui sebuah masalah, maka sama halnya dengan selangkah lebih maju dalam menyelesaikan masalah. 


2. Pelajari gejala dan waktu cemas muncul dengan mencatat


Dengan mempelajari gejala dan kemunculan kecemasan bisa membantu mengenali solusi permasalahan. Mulai dengan mencatat kondisi yang dirasakan ketika mengalami kecemasan. Misalnya, kepala pusing jadi tidak bisa berkonsentrasi, merasa was-was, dan lain-lain. 


Gejala atau sensasi yang dirasakan sebaiknya perlu dicatat untuk mengetahui alasan dan penyebab kecemasan yang sedang dihadapi.


3. Cara menghadapi kecemasan ketika muncul


Setelah mencatat dan mengetahui kondisi kecemasan yang kerap muncul, jangan lupa untuk mencari cara bagaimana mengatasi kecemasan ketika kondisi tersebut muncul. Kalau aku disarankan untuk mencari sumber stres dan mencoba meredakannya dengan beragam hal yang bisa mengurangi kecemasan. Misalnya jalan kaki sebentar, minum air putih, mencari aktivitas yang menyenangkan, berdiam diri sambil melatih pernapasan.


4. Bikin daftar hal-hal kecil yang ingin dicapai


Rasanya kecemasan itu bisa muncul dari berbagai faktor, terutama soal masa depan yang mana bisa kita tebak arahnya. Nah ketika cemas muncul, untuk meredakan kondisi tersebut ada baiknya coba dengan membuat daftar hal-hal kecil yang ingin dicapai dalam jangka waktu terdekat. Misalnya kalau aku sedang cemas, aku berusaha untuk meredakan dengan membuat daftar hal-hal yang ingin dicapai dalam waktu dekat. Pertama rajin jalan kaki dan mengurangi begadang, dan lain-lain. 


5. Latihan mengelola kecemasan bersama ahlinya


Setelah menyadari bahwa menghadapi kecemasan bukan perkara mudah, lalu merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengurai permasalahan tersebut. Aku sarankan untuk mengikuti konseling dan mentoring dengan ahlinya. Aku merekomendasikan layanan konseling dan mentoring dari Satu Persen. Ada banyak pilihan layanan yang bisa kamu sesuaikan dengan kebutuhanmu. Bukan cuma konseling dan mentoring, kamu juga bisa mengikuti beragam webinar dan informasi seputar kesehatan mental lewat beragam platform media sosial Satu Persen. 

Semoga info ini bisa membantumu mengurai kecemasan. Ingat ya, cemas itu sesuatu yang wajar. Justru orang dengan kecemasan semacam diberikan keunikan karena memiliki kemampuan untuk lebih waspada dan merencanakan kehidupan lebih hati-hati. Ingat ya, kamu tidak sendirian!


Mengakhiri 2021 kali ini dengan ucapan terima kasih karena masih mau melanjutkan hidup, setelah apa yang terjadi dan dirasakan selama 12 bulan. Aku masih ingin mengenali diriku sendiri dan merangkul kecemasanku dengan baik. Harapan yang sederhana, aku bisa lepas obat dari kecemasan dan depresiku.


You Might Also Like

0 comments