Berbagi Pengalaman Wawancara Bisma Part 2

12:58 AM



...........Pada akhirnya, namaku di panggil Vindiasari. “Di ruang xx ya, ini berkasnya nanti diserahkan ke pewawancara. Ikuti masnya yang itu ya, nanti diarahin, kata seorang panitia.”..............


Masuklah saya ke ruang wawancara. Saya mendapati beberapa meja tersebar di dalam ruangan. Terjarak sama panjang antarmeja. Ada banyak peserta yang sedang mengeluarkan kemampuan maksimalnya dalam menjawab pertanyaan. Terdengar bahasa Inggris dari salah seorang peserta. Semua fokus pada apa yang di depannya. Pengamatan sekilas pun harus segera diakhiri, karena panitia menunjukkan kursi kosong yang siap untuk diduduki.

 Kursi kosong itu memang menjadi kursi untuk disinggahi para peserta wawancara. Kursi itu bukan sebuah ketakutan yang dihindari, namun sebuah kesempatan untuk mencoba hal baru. Itulah yang saya pikirkan untuk menghindari ke-grogi-an dan kegugupan yang berlebihan. Kursi kosong itu di hadapannya telah diisi oleh seorang bapak berpakaian rapi. Ketika mata saling bertemu, seulas senyum disunggingkan. Kemudian Bapak itu memberi isyarat silakan duduk. Saya pun duduk di kursi kosong itu.
               
Berkas pun saya berikan ke pewawancara. Pewawancara pun sibuk membaca berkas yang saya berikan. Pewawancara membaca sekilas berkas tersebut, kemudian menyuruh saya untuk memperkenalkan diri. Dengan senang hati, saya memperkenalkan diri. Saya Vindi bla bla bla *out of record* untuk konsumsi pribadi saja. Sesi perkenalan selesai. Kemudian sesi wawancara dimulai.
                 
Beberapa rekaman samar-samar teringat di pikiran. Namun terdapat hal yang sangat-sangat membekas di pikiran.


Ekspektasi awal dariku. Pewawancara akan langsung menggunakan bahasa Inggris. Nyatanya, dimulai dengan bahasa Indonesia kemudian dilanjutkan bahasa Inggris. Alhamdulillah bisa :’)

Ekspektasi awal dariku, pewawancara akan menanyakan seputar pengetahuan program beasiswa BISMA dan printilannya. Realitanya, semua informasi yang ku peroleh hanya tersampaikan 25 persen saja. “Saya cerita pewawancara bahwa saya tidak mengetahui program beasiswa tersebut. Saya pun menceritakan apa saja yang saya lakukan hingga menemukan beberapa hal terkait beasiswa ini,” saya jujur sekali ya._.

Ekspektasi awal dariku, pewawancara bersifat kaku. Namun nyatanya, wawancara ini cenderung seperti percakapan biasa. Obrolan antara teman, sahabat, atau kenalan. Entah aku sendiri yang merasakannya, atau memang pembawaan dari pewawancara santai. Saya akui, semua wawancara mengalir begitu saja, berbeda dengan wawancara yang saya lakukan ketika melakukan liputan untuk majalah kampus. Obrolan santai bukan berarti yang dibahas juga santai.


Saya salut dengan pewawancara, ia mengemas esensi obrolan dengan sangat menyenangkan. Esensinya berat tapi disampaikan dengan gaya yang santai dan sederhana. Tapi percayalah, saya sempat dihadapkan pada pertanyaan yang sulit. Pewawancara terus mengali jawaban saya dengan pertanyaan yang sama secara berulang. Pada akhirnya saya berpikir cukup lama untuk menjawab pertanyaan itu.

Pewawancara (P)      : Apa yang ingin kamu lakukan beberapa tahun ke depan?
Saya (S)                    : Saya akan melakukan A.....
P                               : Setelah A terlaksana, apa yang ingin kamu lakukan?
S                               : Saya ingin B, tapi belum menjadi prioritas saya. Saya ingin melakukan C dulu.
P                               : Setelah B/C terwujud, apa yang ingin kamu lakukan?
S                               : saya ingin D....
P                               : Setelah D terwujud, apa yang ingin kamu lakukan?
S                               : saya pun menjawab keinginan saya yang sejauh ini saya impikan dan entah kapan akan terwujud. Namun keinginan-keinginan itu habis.... 

Pewawancara terus menanyakan hal itu. Saya pun kesulitan-lebih tepatnya saya nggak tahu keinginan apa lagi yang harus saya lakukan di masa depan. Karena saya belum membayangkan sampai sejauh itu. Hingga akhirnya saya menjawab sekena dan selintas saya mengenai bayangan masa depan itu.

Baiklah saya belajar satu hal dari pertanyaan itu, rencanakan masa depanmu, Vin. 

Lanjut, hal yang masih saya ingat lainnya. Adalah ketika saya merasa malu. Setelah mengobrol panjang, ............................

bersambung..............

You Might Also Like

1 comments

  1. Salam..
    Boleh ceritakan seputar pertanyaan wawancara kse saat wawancara dengan pak dadit. Terima kasih banyak

    ReplyDelete