Sambatan Oktober

9:21 PM



Tulisan ini dilatarbelakangi oleh obrolan dan keadaan di tengah Bulan Oktober 2015.




Siang itu, sesuai kesepakatan sebelumnya. Saya mengantar mama ke rumah sakit.  Tak enak hati membatalkannya, karena memang saya yang ingin mengantarkan beliau. Saat itu, keadaan saya sedang tidak enak. Semacam akan sakit, pasalnya badan saya merasa linu dan kedinginan luar biasa. “Ah ini mah, mau flu,” batinku saat itu.

 Asumsi tersebut dibangun dengan landasan tak berdasar. Pada akhirnya, sebelum menjemput mama, saya menyempatkan mampir ke apotek untuk membeli masker dan vitamin. Mengantar mama pun hanya prolog dari kisah panjang ini. Sepulang dari rumah sakit, badan saya semakin menjadi. Pening di kepala semakin terasa, badan linu pun semakin mengena. Vitamin pun sudah saya minum. Akhirnya saya menyempatkan diri untuk merebahkan badan saya dengan jaket tebal-ketika matahari sedang terik-teriknya.

Melihat keadaan yang kurang sehat, mama pun menyarankan saya untuk periksa. Saya pun menolak dengan tegas. “Nggak mau, paling cuma mau flu aja. Minum vitamin, air putih, makan, plus istirahat juga sembuh,” jelasku. Mama pun seolah memaklumi alasan dan kebiasaanku ketika sakit. Berbicara tentang sakit, saya jadi teringat dua bulan di perantauan. Saya pun dianugerahkan sakit oleh Yang Maha Kuasa. 

Saya dan Sakit
Kalau ngomongin sakit, saya tipe orang yang suka memelihara sakit. Itulah komentar dari salah satu teman. Hal tersebut pun disetujui oleh Mama. Eits, jangan salah persepsi dulu, yaaa. Percayalah, semua orang tak ada yang ingin sakit, termasuk memeliharanya. Saya pun begitu.  Jadi maksud dari memelihara sakit adalah tidak segera mengambil tindakan penanganan untuk sakit itu. Penanganannya seperti minum obat. 

Bagi orang yang mengenal saya secara dekat, tentu akan mengetahui mengapa saya tidak menyukai-menghindari obat. Demi apapun, saya lebih memilih melakukan treatment lain, daripada meminum obat. Saya orang yang rewel kalau sakit, itu pun kata teman. Langsung saya anggukan kepala, tanpa menolak.  “Namanya juga sakit, rewel dikit maklumin aja,” pembelaanku.

Sakit dan Teman
Entah, saya nggak bisa milih subjudul yang cocok untuk ini. Alhasil saya tulis sekadarnya. Sakit dan Teman, apa hubungannya? Jadi begini, suatu ketika saya sedang sakit. Eh teman saya juga sakit. Kita sakit disaat bersamaan dengan lokasi yang sama pula. Ada kisah menarik yang masih membekas dalam benak saya. Saya bukan tipe orang yang periksa ke dokter, karena bagi saya penanganan preventif dan pertolongan pertama lebih utama. Berbeda dengan teman saya, dia adalah tipe yang berlawanan dengan saya.

Suatu ketika, kami pergi bersama ke sebuah puskesmas di sore hari. Tentu, puskesmas sudah tutup. Jalan terakhir adalah mendatangi rumah dokter yang lokasinya tepat di seberang Puskesmas. Sebelum sampai di rumah dokter, kami berbincang mengenai biaya. Obrolan singkat tersebut menjuru pada kira-kira berapa uang yang harus dikeluarkan? Tak ada yang menjawab, pertanyaan tersebut. Hanya muncul sebuah pernyataan, “aku nggak bawa uang vin. Uangku cash-ku habis.” Mendengar pernyataan tersebut, aku pun menjawab. “Aku juga nggak bawa uang. Trus bayarnya gimana?” Lagi-lagi pertanyaan itu tak menemukan jawaban hingga tiba di rumah dokter.

Pada akhirnya, kami menceritakan apa yang dirasakan dan kronologi sakit. Setelah itu, dokter memberikan penangangan dan beberapa obat untuk kami. Saya hanya diberikan wejangan dan obat, sedangkan teman saya lebih dari itu. Dia diberikan suntikan. Tanpa menanyakan biaya, kami pun mengucapkan terima kasih untuk dokter telah melakukan penangganan pada kami. Kami pun pamit, tanpa membayar biaya. Ya, karena memang kami nggak membawa uang. Pamit pun rasanya berat dan nggak tega, tapi keadaan mengajak kami untuk tega. Baiklah, kami pun pulang ke rumah. Dari lubuk hati terdalam, saya mengucapkan terima kasih kepada dokter. 

Butuh kamu-teman.
Subjudul kali ini ditujukan untuk penyelemat kerewelan saya. Ketika sakit mendera tiada henti, tubuh ini memberikan sinyal menyerah. “Ya, saya harus minum obat. Nggak bisa kalo gini terus,” ungkapku menyerah. Saya pun minum obat dengan perjuangan berat. Emang berlebihan, tapi itulah yang aku rasakan. Untunglah, saya memiliki teman yang rela berkorban dan mau membantu. Terima kasih kepada teman yang mau membantu saya minum obat wkwk. Hanya keluarga dan teman yang tahu :’) uuuuu kalau sakit, saya jadi keinget kalian. Makasih yaaaaaaa :’))


XOXO


You Might Also Like

0 comments